Sabtu, 13 April 2013

Cinta Mengapa Tak Harus Memiliki

Masih di siang yang sama, dan aku harus menunggu bis yang akan membawaku pulang ke rumah agar tak terlalu larut sesampainya nanti. Kulihat bis yang biasa membawaku, berjalan perlahan seperti muatannya telah keberatan. "Ahhh... harus berdiri lagi deh," batinku. Aku menjejakkan kaki ke dalam bis dan memang seperti sudah tak ada tempat duduk manis di sana.
Aku memaksakan diri masuk ke arah tengah, berharap masih ada bangku kosong yang menyisip di sana. Hasilnya nihil. Tetapi aku masih bisa lebih tenang karena perjalananku dua kali lebih jauh dari biasanya hari ini.
"Duduk di sini aja non, aku udah deket kok," sapa seorang pria yang tengah duduk satu baris dari bangku tempatku berdiri. Karena kaki sudah pegal, dengan tanpa sungkan akupun beranjak duduk di bangkunya. Menikmati kursi tersebut aku tak sadar bahwa penumpang sudah semakin sepi dan pria yang tadi memberikanku kursinya masih berdiri di sana. Aku mulai memperhatikannya. Baik juga dia memberiku kursi ini sekalipun dia juga masih harus menempuh jarak jauh.
Beberapa menit kemudian, bangku di sebelahku kosong. Aku bergeser. Dan ia duduk di sebelahku.
"Aryo," ia menyodorkan tangan dengan ramah. "Elin." Aku balik menyodorkan tangan, dan di situlah awal perkenalanku dengan Aryo.
***
Sudah 4 bulan ini hatiku diliputi bunga-bunga. Aku semakin bersemangat, tak peduli jalanan macet, pekerjaan berat, atau masalah di kantor, semua terasa baik-baik saja sejak kehadiran Aryo.
Belakangan ini ia selalu menjemputku, kami akan pergi sekedar makan dan ngobrol terlebih dahulu sebelum menjalani rute bis kami.
Sekalipun tubuh kelelahan, setidaknya aku senang dan cukup puas bisa selalu berlama-lama dengannya. Rasanya seisi hariku dipenuhi dengan namanya, dengan keceriaan, kelembutan, keromantisan serta pengetahuannya yang luas itu. Ia hampir selalu membuatku terkesima karena ia tahu banyak hal.
Singkat kata, ia merebut hatiku.
Dalam hanya 4 bulan saja, hatiku terkait terlalu erat. Aku enggan melepaskan, dan tak ingin melepaskannya. Aku berharap hubungan kami ini segera berlanjut ke arah yang lebih serius.
"Ar, ibuku bertanya-tanya tentang kamu lho. Dia ingin bertemu kamu, karena tak puas mendengarkan cerita dariku,"
"Hmm... ok. Nanti kita atur ketemuan dengan ibumu ya, sayang." Aryo terlihat tenang dan seperti yakin jalan yang akan kami tempuh ke depannya. Itulah sebabnya aku tak pernah khawatir dan curiga apa-apa terhadapnya.
Dan mungkin harapanku terlalu tinggi. Aku terlalu naif saat berhadapan dengan cinta. Hingga aku harus bertemu luka.
***
Sudah seminggu ini Aryo bilang sedang sibuk. Aku jadi lebih sering pulang sendiri. Komunikasi juga agak sedikit sulit, dan hatiku mulai bertanya-tanya. Ada apa dengannya ya?
Hari itu aku tak ingin langsung pulang. Walaupun aku tahu akan tiba di rumah larut malam jika tak bergegas mencari bis. Apalagi tak ada Aryo yang menemaniku. Ah, tak apa. Toh biasanya aku juga seorang diri.
Menikmati secangkir hot chocolate dan pancake rumahan buatan sebuah cafe kecil di sudut jalan, akupun puas. Aku merasa lebih tenang dan dapat berpikir jernih. Aku akan pulang, beristirahat dan berharap Aryo akan menghubungiku keesokan harinya.
Dan sesaat setelah aku hendak menjejakkan kaki keluar, aku terdiam. Aku melihat sesosok pria yang kukenal beberapa lama ini. Aryo. Ia menggandeng tangan seorang wanita yang anggun masuk ke dalam mobil. Dengan membawa kantungan plastik belanjaan yang cukup banyak jumlahnya. Sedang apa ya dia?
Tak ingin membuatnya terkejut, aku memutuskan menahan diri dan bertanya via telepon sesampainya aku di rumah nanti.
"Ar, kamu kenapa sih susah dihubungi akhir-akhir ini?" tanyaku menahan emosi, karena aku tak ingin ia menganggapku terlalu cemburu atau mengekang.
"Aku sedang sibuk saja sih belakangan ini, maaf ya," katanya.
"Hmmm... kalau memang banyak yang harus kamu kerjakan dan kamu merasa keberatan, aku mau lho ngebantu kamu,"
"Nggak perlu Lin. Untuk urusan kali ini, kayaknya aku nggak bisa melibatkan kamu," suaranya mulai bergetar. Akupun curiga, dan merasa was-was, ada apa sih ini?
Belum sempat aku bertanya, Aryo sudah mengambil suara dulu.
"Lin, aku boleh bertemu kamu? Aku tahu ini sudah malam. Tapi aku pengen banget peluk kamu," kata-kata Aryo spontan membuatku senang. Aku sendiri tak tega dengan suaranya, ia terlihat sedang membutuhkan aku saat ini.
"Iya, aku akan ijin ibu. Dia pasti mengerti kalau memang ada yang penting."
"Tidak. Aku tidak akan lama kok, aku akan segera sampai di rumahmu 30 menit lagi. Aku janji, nggak akan lama." Teleponpun ditutup dan aku dengan cemas menunggu kedatangan Aryo pertama kali ke rumahku.
***
"Aku udah di depan." Demikian bunyi SMSnya. Segera aku berlari ke depan dengan membawa jaket lengkap dengan tas slempangku. Aku tak yakin Aryo akan masuk, sehingga aku bersiap membawa perlengkapan pergi.
"Kita nggak usah ke mana-mana Lin, di sini aja. Nggak lama kok. Nggak enak udah terlalu malem." Aku mengangguk. Dan tiba-tiba ia meraihku, memelukku dalam-dalam dan erat. Tubuhnya kurasakan bergetar, mungkin dia menangis. Aku hanya membalas pelukannya lebih erat, dan menenangkan dia.
"Kamu kenapa sih Ar?"
"Lin, aku udah salah sama kamu. Seharusnya hubungan ini nggak boleh terjalin."
"Kenapa bisa begitu?"
"Aku akan menikah bulan depan dengan tunanganku."
Kalimat itu membuatku terkejut dan spontan melepaskan tanganku dari tubuhnya. Aku terdiam sejenak, tak percaya.
"Kamu mempermainkan aku, Ar?" aku bertanya lirih tak jelas, berusaha meyakinkan diri kalau ini cuma mimpi.
"Aku nggak berniat mempermainkan kamu Lin. Aku beneran jatuh cinta sama kamu sejak pertama kali kita bertemu. Sayangnya, pada saat itu statusku tidak lagi single. Dan, kamu boleh bilang aku egois. Tetapi, kamu harus tahu bahwa aku nggak main-main, perasaanku ini beneran sama kamu!"
Aku bingung dengan penjelasan Aryo yang terdengar hanya menguntungkan dirinya saja.
"Mungkin memang kita bertemu di waktu yang nggak tepat, itu saja," sambungnya.
"Ok. Tak usah berbicara lagi. Aku cukup tahu ini, dan aku sudah bisa menebak selanjutnya apa," aku tertunduk kecewa dan mengambil ancang-ancang masuk ke dalam rumah. Aryo meraih tanganku, berusaha menarikku kembali ke pelukannya.
"Maaf Lin... maaf... tapi percayalah, perasaanku nggak akan berubah. Aku akan tetap sayang kamu," matanya berkaca-kaca. Yang hanya kupandang tanpa balasan sepatah katapun.
Aku beranjak masuk. Menahan semua air mata yang nyaris tak terbendung di depannya tadi.
Akhirnya, kutumpahkan semua isak tangisku di atas tempat tidurku. Memungut semua harapanku yang telah kugantung tinggi-tinggi, dan kumasukkan lagi ke dalam hati.
Tuhan... mengapa sih KAU harus mempertemukan kami kalau pada akhirnya kami tak bisa saling memiliki?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar